KERENDAHAN HATI


Sat, 27 May 2017


Dalam Filipi 2:8 tertulis: Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dalam teks aslinya, terdapat kata heuretheis (ευρεθεις), yang berasal dari kata heurisko, yang bisa berarti find, get, obtain, perceive, see. Melalui ayat ini hendak dikemukakan bahwa dalam keadaan sebagai manusia Ia merendahkan diri. Kata ini menerangkan bahwa Yesus benar-benar menjadi manusia. Dalam teks alsinya tertulis: heuretheis hos anthropos (ευρεθεις ως ανθρωπος,). Kata hos (ως) bisa berarti about, after (that), (according) as soon (as), even as (like). Kata ini lebih menegaskan bahwa Yesus Kristus benar-benar menjadi manusia yang memiliki keberadaan yang sama dengan manusia. Hal tersebut adalah sebuah perendahan diri yang sangat hebat, sebagai Allah tetapi merelakan diri sejajar dengan ciptaan-Nya. Cara inilah yang menghantar-Nya ke kemuliaan-Nya. Allah Sang Pencipta menjadi sama dengan hasil ciptaan-Nya; manusia, adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti. Justru di sinilah nampak kerendahan hati Yesus Kristus, yang menjadi pola kehidupan pelayan Tuhan di sepanjang zaman. Ketika Yesus menjadi manusia, Yesus sadar siapa diri-Nya. Ia telah mengosogkan diri-Nya, maka Ia tidak menuntut Bapa memperlakukan-Nya secara khusus.

Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya. (Ibr. 5:7-8). Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus mengenal diri-Nya sebagai Allah yang telah mengosongkan diri, karenanya Ia merendahkan diri sedemikian rupa. Dalam pelayanan dapat dilihat sikap rendah hati-Nya yang luar biasa dan hal ini menonjol dalam pelayanan-Nya. Itulah sebabnya hal kerendahan hati menjadi sangat sentral bagi seorang pelayan Tuhan. Melayani seperti Yesus berarti melayani dengan kerendahan hati, yang menuntut dirinya menyadari (mengenali diri) dan menerima bahwa dirinya adalah milik Tuhan sepenuhnya. Orang yang menyadari bahwa dirinya dalah milik Tuhan, maka segala sesuatu yang dilakukan tidak lagi untuk dirinya sendiri, tetapi bagi kemuliaan nama pemiliknya, yaitu Tuhan Yesus.

Pengenalan diri yang benar membuat seseorang dapat menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar pula. Tuhan adalah Sang Khalik, Pencipta langit dan bumi, dan manusia adalah ciptaan. Seorang yang mengenal diri dapat menempatkan diri sebagai ciptaan di hadapan Penciptanya. Dengan demikian seseorang dapat melayani Tuhan dengan sikap hati yang benar. Tentu pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang bermotif benar. Pengenalan diri yang benar akan membuatnya dapat menerima diri dalam segala keberadaannya. Ini berarti seorang pelayan Tuhan tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan yang ada padanya. Aspek lain, seorang pelayan Tuhan harus bisa menerima kritik dan saran orang lain. Selanjutnya ia akan terus menerus mengoreksi diri, agar mengenal diri seperti Allah mengenal dirinya. Dengan mengenal diri dengan benar, maka seseorang bisa mengenal orang lain. Hal ini sangat dibutuhkan dalam pelayanan. Hal ini membuat seseorang tidak menonjolkan diri. Orang yang tidak menonjolkan diri atau tidak mencari hormat bagi dirinya, segala sesuatu yang diusahakan adalah demi kemuliaan Tuhan atau kepentingan Kerajaan Allah.

Sikap tidak menonjolkan diri berangkat dari kesadaran bahwa dirinya adalah seorang “hamba”. Kerendahan hati ini adalah sikap hati, sesuatu yang bersifat batiniah. Kesadaran ini akan membuat seseorang dengan tegas menolak segala bentuk pengkultusan atas dirinya. Pengkultusan diri, baik secara terang-terangan maupun terselubung, adalah sikap penolakan terhadap Tuhan sebagai satu-satunya yang layak disembah. Keberhasilan, sukses dan segala perestasi pelayanan hendaknya tidak menjadi alasan untuk meninggikan diri. Seorang pelayan Tuhan memang tidak dapat mencegah orang memuji atau mengidola dirinya, tetapi seorang pelayan Tuhan yang benar akan mengarahkan pujian dan pengidolaan tersebut agar ditujukan bagi Tuhan. Untuk ini seorang pelayan Tuhan tidak boleh memberi signal atau isyarat kepada orang lain untuk menyanjung dirinya. Sekalipun ia dapat mencapai prestasi yang tinggi, ia tidak memanipulasi keberhasilan atau prestasi tinggi yang dicapainya untuk menonjolkan diri.

Sumber : Truth

- untuk kalangan sendiri -