Berkat atau ALLAH?


Mon, 23 February 2015


BERKAT ATAU ALLAH?
Mazmur 23:1-6

Mengapa kita menjadi orang Kristen?  Mengapa kita melayani?  Apakah motivasi kita hidup bagi Tuhan?  Mazmur 23 memberikan beberapa prinsip kehidupan orang Kristen di dalam memandang Allah dan berkat, sbb:

23:1, TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku

Yang dimaksudkan dengan “tak kan kekurangan aku” adalah “I shall not want” (tidak akan menginginkan).  Artinya walaupun orang Kristen bisa dalam keadaan kurang (sakit, miskin, lapar, menderita, dll) tetap saja tidak menginginkan yang lain lagi, sebab sudah memiliki dan dimiliki oleh TUHAN yang adalah Gembala Yang Baik.  Ini adalah prinsip berkat Kristiani yang pertama.

Sudahkah Anda dimiliki dan memiliki TUHAN?  Sudahkah Anda merasa cukup di dalam TUHAN dan Dia menjadi yang terutama dalam hidup?

23:2, Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau… ke air yang tenang

Padang rumput yang hijau dan tepian air tenang (berkat-berkat) adalah kebutuhan pokok keperluan para domba, dan Gembala pasti akan berikan.  Sebelum kita meminta maka Bapa Sorgawi sudah tahu keperluan kita.  Jadi fokusnya adalah Bapa Sorgawi yang mengetahui, Gembala yang sanggup membimbing kita menuju berkat yang kita butuhkan.  Ini adalah prinsip berkat Kristiani yang kedua.  

Apa yang Anda lihat dibalik semua berkat materi dan kebutuhan yang ada?  TUHAN Sang Pemberi berkat, atau hanya berkat Tuhan?

23:3,Ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntun aku di jalan yang benar…

Yang dimaksud dengan “menyegarkan” adalah “membangunkan, menyadarkan” dari tidur, dan tentunya adalah sesuatu yang tidak nyaman.  Kita cenderung nyaman tertidur, terlelap, terbius, terlena, terikat, kecanduan, dalam banyak hal, termasuk berkat materi yang diberikan Tuhan, sehingga lupa diri, lupa sesama dan lupa Tuhan.  Adalah baik jika kita ditegur, dididik, dihajar oleh Gembala, sehingga kita sadar dan berjalan yang benar.  Inilah adalah prinsip berkat yang ketiga.  

Sudahkah kita bersyukur untuk hal-hal yang tidak menyenangkan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita?  Karena itu adalah bukti kasih sayang Gembala yang menyadarkan dan mendewasakan kita.  Jangan sampai kita dibiarkan dan tidak pernah dididik oleh Tuhan.

23:4, Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman… Engkau besertaku…

Memasuki kegelapan adalah ketidaknyamanan dan ketakutan tersendiri, sebab kita kehilangan kontrol diri bahkan eksistensi diri.  Tetapi ketika Gembala itu hadir dan menuntun tangan kita, maka kita menemukan kembali eksistensi diri dan arah dalam perjalanan kita.  Berjalan mengiring Sang Gembala memasuki masa depan yang belum diketahui, tapi tahu pasti siapa yang menuntun tangan kita, itu adalah prinssip berkat Kristiani yag keempat.  

Sudahkah Anda membangun eksistensi diri dengan melekat kepada penyertaan TUHAN?  Ataukah hanya mengandalkan kuat diri dan lingkungan yang selalu berubah?

23:5, Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku, … pialaku penuh melimpah

Gembala yang baik justru meletakkan makanan hidangan pesta di antara kita dan “musuh” kita (mereka yang berseberangan dengan kita, yang tidak kita sukai, yang telah melukai kita, dll).  Tidak lain tujuannya adalah “merubah perseteruan menjadi persaudaraan”atau rekonsiliasi, akur kembali, sehingga kita sanggup menelan makanan yang disediakan dengan sukacita.  Bahkan peristiwa itu akan menjadi kesaksian indah dan memberkati, sebab hidup kita bagai dipenuhi aliran kasih dan berkat yang melimpah (pialaku penuh melimpah).  

Sudahkah Anda mendoakan “para musuh”?  Bersama Gembala maka tidak ada yang mustahil, hidup kita bertambah teman dan saudara dan berkurang musuh.  Ini adalah prinsip berkat Kristiani yang kelima.
 
23:6, Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku…

Kebajikan dan kemurahan (berkat-berkat) tidak berada di depan mata kita, Daud menyaksikan semua kehidupannya, bahwa berkat-berkat itu mengikutinya (di belakang).  Mengikuti artinya tidak kelihatan, sampai dalam langkah maju kita mengikut Gembala, kita menengok ke belakang, kita terkejut dan kagum, rupanya begitu banyak pertolongan yang Tuhan sudah berikan sehingga kita dapat menjalani perjalanan kehidupan ini.  

Sudahkah Anda hanya menatap Gembala yang di depan dan dengan setia mengikutinya, tanpa mesti bertanya apapun?  Lakukan itu, maka langkah iman akan membuahkan berkat (bahkan yang sepertinya mustahil) dalam perjalanan hidup kita.  Inilah berkat Kristiani yang kelima, berbahagialah yang tidak melihat namun percaya.

Pdt. Suriawan Edhi