DUNIA DIRI YANG PALSU


Mon, 23 February 2015


“DUNIA DIRI YANG PALSU”
Refleksi Spiritualitas Pastoral

Ketika Elia dikejar oleh Izebel, dia berlari ke gunung Horeb, bersembunyi di dalam gua di “gunung Tuhan”.  Banyak ahli spiritualitas meyakini bahwa gua persembunyian tersebut adalah “Dunia Diri” Elia, yaitu dunia yang dia ciptakan dari pemikiran agamawinya sendiri.  Dunia semacam itu melahirkan sentimentil  beragama sendiri, membentuk mentalitas pelayanan sendiri.  Bahkan antusiasme pikiran menghasilkan tatanan idea hidup sendiri.  Kalau kita teliti mendengarkan setiap kata responnya kepada Allah: kita segera menemukan bahwa daya imajinasinya begitu aktif, dia begitu yakin bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN; Dia berpikir seluruh Israel telah meninggalkan TUHAN, dan hanya dia sendirilah abdi Allah yang paling setia!  Tegasnya, ini adalah bayangan palsu yang tidak sesuai realita.  Tidak ada orang yang layak mengatakan “bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN!”  Juga tidak ada orang yang layak mengatakan “hanya aku seorang dirilah yang masih hidup!”

Berbicara tentang “dunia diri yang palsu” keberadaannya sudah meluas di dalam gereja, khususnya dalam hidup keagamaan para pemimpin, hampir setiap orang memilikinya, seperti Elia.  Kita di dalam “dunia diri yang palsu” memproyeksikan Allah, mengenali diri sendiri, merencanakan dan menjalankan satu seri pelayanan.  Dalam dunia palsu tersebut kita juga menjelaskan keberadaan Allah, bahkan “bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN”!  Yang paling mengkuatirkan adalah rasa aman di dalam gua, telah “mengkondensasikan” nama kudus Allah dan kewibawaannya yang tidak boleh dilanggar.  Alkitab tidak mencatat Izebel mengengejar Elia sampai ke mulut gua, mungkin disebabkan alasan ini!  Ada nama kudus Allah yang menjaga, siapa berani melanggar?  Di dalam dunia diri yang palsu seperti itu, bayangan palsu apapun bisa muncul, konsep kepercayaan apapun mendapat ruang untuk bertumbuh, sistem tatanan, aturan apapun dapat dipakai untuk melindungi otoritas diri dan menutupi pembangkangan diri.  Bersembunyi “di dalam gua” yang kudus, selain bayangan palsu diri, maka tidak ada yang lain lagi.
   
Dalam refleksi spiritual saya, maka peristiwa “gua” Elia sebenarnya menjadi bel alarm yang memperingatkan kepada para hamba Tuhan masa kini.  “Dunia diri yang palsu” yang memakai label otoritas ilahi mungkin adalah:  sebuah system organisasi gereja yang membuat kita “tenang untuk memerintah”,  sistem paradoksi kemegahan aneh gereja,  kerangka teologi menurut penjelasan hamba Tuhan itu sendiri, reputasi penekanan dari hamba Tuhan atau sejarah gereja yang panjang dan membanggakan.  Tidak ada orang yang boleh membongkar label ilahi dari gua itu, juga tidak ada orang yang dapat menembus bayangan palsu di dalam goa.  Tetapi dalam peristiwa Elia, memang yang mengejar hendak membunuh adalah Izebel, tetapi Allahlah yang mengejar Elia sampai ke mulut goa!  Allah sendirilah yang membongkar dan menembus kebesaran goad an dunia diri palsu dalam goa tersebut!  Allah sepertinya tidak mengijinkan gunung-Nya yang kudus menjadi tercemar, terlebih lagi Allah tidak dapat menerima hamba-Nya bersembunyi di balik otoritas kuasanya yang maha tinggi, tetapi sedang membangun satu paket hidup beragama dan kebesaran diri yang palsu.

Ketika Elia bersembunyi di dalam goa, pastilah pikiran dan sentimentalitas agama yang kental telah merambah luas di dalam hatinya.  Tidak heran saat meresponi pertanyaan Allah, tanpa sadar dia memamerkan dirinya “bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN.”  Di balik penilaian dan bayangan dirinya, penuh menyatakan kebanggaan diri, justru sedikit pun tidak membuat orang merasakan kehidupan spiritual yang penuh kelembutan, kerendahan hati, dan kasih.  Saat itu Elia mencurahkan isi hatinya, seluruhnya adalah jeritan dari khayalannya.  Di dalam dunianya yang palsu, Allah hanyalah sebuah media sarana, sebuah slogan, yang digunakannya sebagai tanda dan kode untuk menjalankan berbagai pekerjaan.







Lokasi untuk kehidupan spiritual memang sangat licin, kalau tidak erat memegang tangan Allah, maka kita mudah sekali terpeleset masuk dalam dunia diri yang palsu.  Tantangan terbesar gereja, bukanlah setia kepada organisasi dan sistem gereja, juga bukan kedalaman pemikiran teologi, juga bukan level profesionalisme pelayanan dan kefasihan pemberitaan  Firman, melainkan pada kesadaran dan kedalaman kehidupan spiritual.  Ketika iman telah berubah menjadi pemikiran saja, maka kecenderungan pemikiran semacam iri hati, negatif, penyimpangan, kekecewaan akan meluap, bahkan seringkali mengarang sebuah cerita.  Nabi yang besar pada jamannya, Elia, dalam pemikirannya sendiri telah mengarang sebuah cerita, dia tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sangat kasihan!  Lihat, dia lari ke dalam goa, seorang diri, dan mengeluh: “hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (sangat kasihan!)  Bukankah perkataan semacam ini tidak semestinya diucapkan oleh Elia?

Allah menyuruh Elia keluar, keluar dari dunia bayangan palsu dia, jangan lagi ke dalam goa dan mengarang cerita, tetapi masuk ke dalam realita dan menghadapi segalanya!  TUHAN berkata:  (19:1) "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.  (19:12) Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.  (19:13) Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu.  Apakah yang dilihat Elia?  Gunung batu terbelah bukit batu terpecah, gempa bumi, angin dahsyat, api!  Alkitab khusus mencatat:  tetapi tidak ada TUHAN di dalamnya.  Artinya, semua yang membuat orang tergetar, “perkara yang dahsyat” semua adalah karya Allah, tetapi karya yang membuat orang tergetar itu mutlak bukan Allah itu sendiri!

Di manakah Allah?  Setelah semuanya berlalu, datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa, itulah kehadiran Allah!  Suara yang keluar dari mulut Allah.  Setelah Elia mendengar, ia menyelubungi mukanya.  Allah dalam suaranya yang lembut dalam angin sepoi basa, Allah hendak mengajarkan kepada Elia, bahwa yang semestinya dilihat, semestinya dicari, tidak hanya karya Allah; yang semestinya dilihat dan dicari, adalah Allah sendiri!  Apakah yang dilihat Elia?  Setelah Elia melihat semuanya itu, Elia “melihat Allah”, dan yang lebih penting adalah Elia “melihat dirinya yang palsu”,  sehingga dia segera menyelubungi mukanya dengan jubahnya!  Elia telah kembali di atas dasar iman yang sejati, yaitu di dalam realita hidup, iman yang kini dan di sini yang menghidupkan takut akan Allah, tidak lagi bersembunyi dalam dunia yang palsu, tidak lagi membayangkan Allah dengan pikiran sendiri, lalu mengarang cerita sendiri.  Setelah Elia mendengar dan melihat  Allah, akhirnya juga dengan jelas melihat dirinya sendiri.  Allah melindungi dan memberkati dia!

Pdt. Em. Willy Berlian, M.Th.
Februari 2013


虛假的自我世界
教牧的靈性反省

以利亞被耶洗別追殺的時候,他逃跑到何烈山,躲在"神的山"的​​山洞裡。很多靈性學者相信這山洞不外就是以利亞的"假我世界",是他用自己的宗教思想編造出來的世界。他在這樣的世界裡孕育自己的宗教情操,熏陶自己的事奉心智。他更是以想像的激情整理出屬於自己的生命理念。如果我們仔細聆聽他在山洞裡回應神的每句話:就會立刻發覺他的想像力非常活躍,他確信自己為神大發熱心;他認為全以色列都在違背神,只有自己是神最忠心的僕人!嚴格說,這都是不符合事實的假像。沒有人配得說為神大發熱心!也沒有人配得說只剩下自己一個!

論到"假我世界",其實在基督教會,特別在領導人的信仰生命中,已經非常普遍存在,幾乎每人都有一個,像以利亞的一樣。大家在屬於自己的"假我世界"裡投射神,認識自我,規劃和執行一系列的事奉。也在這樣虛假的世界裡去詮釋神的同在,去為神大發熱心!最令人擔憂的乃是山洞裡的安全感,與神的聖名和不可侵犯的威嚴凝結著。聖經沒有記載耶洗別追殺以利亞直到山洞口,也許就是這個原因吧!有神的聖名把守,誰敢侵犯呢?在這樣安全的假我世界裡,任何假像都可以存在,任何信仰概念都有成長的空間,任何體制,規條都可以用來保護自己的權威和塗抹異己。在神聖的"山洞裡",除了自己的假像外,就沒有其他的存在了。

在我的靈性反省中,以利亞的"山洞"事件其實可以當成現代教牧的靈命警鐘。這掛著神聖權威招牌的"假我世界"可能就是一個可以使我們"安心立命"的教會組織系統,教會弔詭矜奇的製度,教牧自己詮釋的神學框架,教牧的聲譽抑或教會引以為豪的歷史長流淵源。沒有人可以拆除山洞的神聖招牌,也沒有人能揭穿山洞裡的假像。不過在以利亞的事件中,追殺的雖然是耶洗別,但追到山洞口的卻是神!是神自己拆除和揭穿山洞的威嚴和山洞裡的假我世界!神好像不允許自己的聖山受到污穢,更不能接受自己的僕人躲在自己的至高權威背後去建立一套虛假的信仰生命和威嚴。

當以利亞躲在山洞裡的時候,相信在他的心中瀰漫的是濃濃的"宗教思緒和情操"。無怪乎他在回應神的問話時,潛意識地標榜出自己"為神大發熱心"的高調。在他自我評估和想像的背後,充分展現出宗教吉卜賽的高傲,絲毫令人感受不到屬靈生命的溫柔,謙卑和愛心所引發的熱心。以利亞當時所吐露的心聲,完全是自己夢想中的吶喊。在他的虛假世界裡,神只是一個媒介,一個口號,是他用以執行各種工作職權的標誌和代號。

靈性生命的場地本來非常油滑的,若不是緊握神的手,便容易使人滑進自己的虛假世界裡。教牧最大的挑戰,並非忠於教會組織及其製度,並非神學思想的深淺,並非事奉的專業程度和宣道的口才,而是"靈性"生命的覺醒和深度。當信心一轉換成思想的時候,什麼妒嫉,消極、偏差、失望的思潮就會湧上來,有時還會組合成了一篇故事。一代偉大的先知-----以利亞,在自己思想編制的故事裡突然變成一個可憐的人物!看,他跑到山洞裡孤單單的,還訴苦說:“只剩下我一個人!他們還要索我的命。”(好可憐哦!)這句話不應該是以利亞說的,對嗎?

神叫以利亞出來,從他的想像虛假世界出來,不再進到山洞裡去編制故事,而是進入現實去面對一切!耶和華說:“你出來站在山上,在我面​​前。”那時,耶和華從那裡經過,在他面前有烈風大作,崩山碎石,耶和華卻不在風中;風後地震,耶和華卻不在其中;19 :12地震後有火,耶和華也不在火中;火後有微小的聲音。 19:13以利亞聽見,就用外衣蒙上臉,出來站在洞口。以利亞看見什麼?崩山碎石,地震,有列風,有火!聖經特別記載說:耶和華卻不在其中。意思是說,這些令人震驚的"天翻地覆"都是神的作為,但這些驚人的作為絕對不是神!


神在那裡?當一切都過去後,有微小的聲音,那才是神!是出自神口中的聲音。以利亞聽見後,就用外衣蒙上臉。神就在他微小的聲音裡面,神要教導以利亞,當看的,當找的,不能只是神的作為;當看的,當找的,應該是神自己!以利亞看見什麼?以利亞聽見後,他"就看見神",但更重要的"他也看見虛假的自己",致使他立刻用外衣蒙上臉!以利亞重新回到真正的信仰基礎上,就是在現實中,於此時此地的信心活現出對神的敬畏,不再躲進虛假世界裡,用想像去投射神,去編制自己的故事。以利亞聽見了神,看見了神,他最終也看清楚了虛假的自己。神保守了他!

連俊偉牧師
2013年2月