Karakteristik Gereja

KARAKTERISTIK GEREJA

Jemaat Bungur sebagai gereja Injili yang dilahirkan dan hidup dalam nilai-nilai budaya Tionghwa, selanjutnya dipanggil Allah untuk menjadi berkat di Indonesia.

KARAKTERISTIK SEBAGAI GEREJA INJILI

Memegang Ajaran Injili (evangelical) dan bukan fundamentalisme, ajaran ini mempunyai ciri-ciri sbb:
Menekankan otoritas Alkitab sebagai pedoman tertinggi untuk iman dan kehidupan orang percaya.
Mempertahankan doktrin Kristologi yang ortodoks.
Memprioritaskan proses pengalaman kehidupan orang percaya dalam pertobatan dan pengudusan.
Penekanan pada misi dan penginjilan.
Memahami etika Kristen secara normatif bukan situasional.
Mendukung gerakan Oikumene dalam arti kerja sama dan kesatuan gereja secara spiritual dan bukan upaya penyatuan gereja universal yang diartikan secara ajaran dan struktural.

KARAKTERISTIK SEBAGAI GEREJA TIONGHOA

Memelihara dan mengembangkan budaya Tionghoa sebagai warisan dari para pendahulu ataupun yang didapatkan melalui kelahiran.  Berbicara masalah Budaya Tionghoa berarti nilai-nilai hidup etnis Tionghoa yang luhur dan sesuai dengan kebenaran Firman Allah.  Melalui budaya inilah jemaat Bungur lahir dan dibesarkan selanjutnya mengkomunikasikan Injil Kristus.  

Adapun yang termasuk nilai-nilai budaya tersebut antara lain:
Bahasa Tionghwa dengan berbagai dialek
(Mandarin, Hokkian, Tiociu, Hakka, Konghu, Tionghoa Peranakkan, dll)
Konsep 孝Xiao / Hauw
(hormat dan berbakti kepada orangtua dan senior)
Konsep 礼Li
(tata krama, sopan santun, sungkan)
Konsep 关系Guanxi
(mementingkan relasi bukan birokrasi dan ingat budi)
Semangat kerja keras, hemat dan rajin menabung, dll
Ajaran dan Budaya telah menyatu dan menjadi semacam “roh” di dalam tubuh Kristus yang disebut GKI Bungur ini membuatnya menjadi unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sebagai sebuah keluarga yang lebih homogen baik secara budaya dan ajaran, tentunya jangan dilihat sebagai komunitas tertutup, kita tidak dapat menerima isu-isu seperti:  kelompok yang ekslusif, kelompok yang primordial, kelompok yang rasial, kelompok yang fundamentalis, kelompok yang aneh, dll.

Pandangan-pandangan semacam itu tidak cukup seimbang dalam melihat sisi utuh Jemaat Bungur.  Apapun yang ada dan sedang berproses di dalam Jemaat Bungur adalah konsekuensi dari panggilan khusus dari Tuhan yang jemaat Bungur yakini.  Jemaat Bungur merupakan tubuh Kristus yang muncul pada sekelompok orang yang hidup dalam budaya Tionghoa.  Tentu saja nilai-nilai luhur budaya Tionghoa yang sesuai dengan kebenaran Firman Allah.  Bahasa Mandarin atau dialek yang lainnya hanyalah salah satu ekspresi budaya Tionghoa, yang sifatnya adalah alat untuk mengkomunikasikan Injil Kristus.

Selanjutnya dengan segala keunikkannya tersebut justru jemaat Bungur sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk menjadi semacam “jembatan” antara etnis Tionghoa dan yang bukan Tionghoa, sehingga Injil dapat diberitakan dan dihidupkan bersama dalam kenyataan keseharian, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia yang multi-etnis.