“PERSEMBAHAN HIDUP BERKARYA MENJADI BERKAT”

Kejadian 12:1-5; 22:16-18​​​​​

Bulan lalu telah melihat bagaimana Allah menaklukkan manusia yang berpusat pada diri dan berjuang mengandalkan kuat diri, yaitu Yakub (Ibrani: memegang tumit) yang diubahkan menjadi Israel (Ibrani: Allah yang berkuasa, menang).  Dari fokus diri dan kuat diri menjadi fokus kepada Allah dan berjuang dalam anugerah Allah.  Selanjutnya pada bulan ini, kita melihat tipe manusia berbeda, yaitu Abraham dan Sara, menjalani proses belajar untuk taat, fokus pada Allah dan bersandar kepada pimpinan Tuhan.  Penuh dengan pergumulan, tidak sederhana dan tentunya hanya karena anugerah Allah.

Di dalam anugerah Allah, maka Abraham dengan iman meresponi panggilan dan pimpinan Allah.  Walau dia bebas untuk memilih begitu banyak alternatif untuk beriman dan mencari andalan, termasuk mengandalkan dewa-dewa Ur kasdim, juga harta benda, atau tinggal dalam zona nyamannya.  Allah memberikan tantangan kepada Abraham untuk “pergi” (Kej 12:1, Ibrani “halak”: berjalan) , yaitu pola hidup baru yang bergaul intim dengan Allah.  Abraham mengambil langkah iman untuk menerima tantangan dan belajar taat.  Demikian juga istrinya, Sara dengan iman yang tidak langsung kepada Allah, melalui ketaatannya kepada suami yang dicintainya.  Sekeluarga sehati untuk hidup baru di dalam Tuhan.  Inilah awal hidup yang baru yang diberkati oleh Tuhan.

Ketika Abraham menyerahkan hidupnya dan keluarganya ke dalam tangan Tuhan, hidup dan berkarya dalam Tuhan, maka Allah menyebutnya sebagai orang yang diberkati dan menjadi berkat (Kej 12:2, Ibrani “hayah berakah”: hidup sebagai berkat).  Apa saja yang dikerjakan Abraham dimaksudkan Allah untuk menyatakan kehadiran Allah yang memberkati.  Berkat bukan di luar dia, tetapi dirinya sendiri di tangan Tuhan adalah berkat.  Ini identitas kita sebagai anak-anak Tuhan yang sudah serius mempersembahkan diri dan dipimpin Allah, kita adalah berkat.  Jangan pernah meremehkan diri, tetapi juga hargailah dna sayangilah orang lain yang Tuhan ijinkan ada di sekitar kita, mereka di dalam Tuhan adalah berkat.

Abraham seorang yang tidak menunda untuk melaksanakan sesuatu, termasuk melakukan Firman Allah yang didengarnya (Kej 12:4).  Dia begitu menghargai Allah dan Firman-Nya, walau dia belum atau tidak bisa mengerti tentang Dia dan karya-Nya.  Dia mau belajar walau usia sudah 75 tahun saat menerima panggilan Tuhan.  Semangat untuk terus maju dan menjadi semakin baik di dalam Tuhan, apakah juga ada dalam hidup dan setiap karya kita.  Jikalau ada sebagian orang yang merasa sudah berpuas diri, cukup, berbagai alasan untuk berubah, maka kakek Abraham yang hidupnya nyaman, masih mau berjalan bersama Tuhan dan menemui apapun juga bersama Tuhan.  Apakah hidup dan karya kita juga memiliki semangat spiritual seperti itu?  Apakah yang menjadi halangan dan menghambat langkah maju kita?  Berjuanglah bersama Tuhan!

Keberhasilan Abraham juga didukung oleh peran istrinya, Sara.  Dalam segala keterbatasannya, Sara memberikan masukkan dan dukungan kepada suami.  Mereka jatuh bangun dalam hidup dan berkarya bagi Tuhan.  Tetapi bagaimana pun Ibrani pasal 11:11, telah menkonfirmasi bahwa Sara juga tokoh iman, bersama Abraham.  Sara juga didewasakan secara rohani melalui perjalanan waktu dan pergumulan hidup mengikut Tuhan.  Sampai akhirnya, dalam peristiwa pengorbanan anak tungal mereka, Ishak, di Moria, Alkitab hanya mencatat kesehatian suami istri ini taat menjalankan persembahan yang terbaik untuk Tuhan.  Padahal, betapa hancur hati mereka, dan tentunya hati mama, ketika anak tunggalnya sepertinya dipersiapkan sejauh ini hanya untuk dikurbankan bagi Allah.  Sekali lagi did alam ketidakmengertian, maka iman yang berbicara dan memutuskan, hati yang mencintai Allah itu yang menguatkan mereka.

Allah sangat tersentuh hati, tergerak melihat hidup dan karya Abraham, sekeluarga.  Allah sampai bersumpah demi Diri-Nya sendiri (Ke 22:16) untuk memberkati Abraham.  Menggenapi semua janji-janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya.  Ketika Allah tersentuh hati dan berkenan kepada seseorang, maka itulah berkat dan kebahagiaan sejati yang terjadi.  Abraham sekeluarga sudah mengalaminya.  Bagaimana dengan kita?  Mohon Tuhan berbelas kasihan kepada kita.  Mari kita melakukan jalan persembahan hidup ini dengan baik, hiduplah dan berkaryalah sesuatu yang menyentuh dan menyenangkan hati Tuhan.  Tuhan memberkati!

Persembahkanlah hidup dan karya kita di atas mezbah, sebagai kurban yang hidup, kudus dan menyenangkan Allah.  Kita akan melihat dan mengalami kehadiran Allah dan karya Allah yang indah, melalui kita yang adalah berkat, memberkati banyak orang.  Di mana saja, kapan saja.  Imanuel!